One

Desa Cibenda Terancam Penurunan Hasil Panen Akibat Dugaan Pencemaran Air

ONENEWSOKE.COM

SUKABUMI – Desa Cibenda, yang terletak di wilayah Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merupakan kawasan yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari onenewsoke.com, wilayah ini memiliki lahan pertanian sawah yang cukup luas, mencapai sekitar 600 hektar, yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi dan sumber pangan bagi masyarakat setempat.

Namun, belakangan ini kondisi alam dan lingkungan pertanian di desa tersebut dinilai semakin memprihatinkan. Masalah utama yang kini meresahkan para petani adalah terjadinya penurunan hasil panen yang cukup drastis, terutama setelah masa panen padi berlangsung. Kondisi ini tentu menjadi kekhawatiran besar, mengingat pertanian adalah tulang punggung kehidupan warga Desa Cibenda.

Salah satu kelompok tani yang merasakan dampak langsung dari perubahan kondisi ini adalah Kelompok Tani Pemuda Tani, yang diketuai oleh Maman. Saat ditemui dan diwawancarai awak media onenewsoke.com, Maman menceritakan secara rinci perubahan yang terjadi di lingkungan pertanian mereka, serta dugaan penyebab utama yang memicu masalah tersebut.

Menurut penuturan Maman, penurunan kualitas air yang digunakan untuk irigasi menjadi indikasi paling nyata dari kerusakan lingkungan yang terjadi. Ia menduga hal ini berkaitan dengan adanya limbah dari kegiatan tambang emas, yang diduga berasal dari wilayah sekitar seperti Waluran dan Cigaru, yang aliran airnya bermuara ke daerah mereka.

“Dulu, sekitar tahun 90-an, air dari Sungai Ciletuh yang mengalir ke saluran irigasi kita sangat jernih. Air itu bahkan bisa diminum, direbus untuk keperluan minum, dimasak, maupun digunakan untuk mencuci. Sekarang kondisinya sudah sangat berbeda, airnya keruh dan tidak lagi layak digunakan seperti dulu,” jelas Maman dengan nada prihatin.

Perubahan kualitas air ini, menurut Maman, memiliki dampak langsung yang sangat besar terhadap hasil pertanian. Ia membandingkan kondisi panen masa lalu dengan keadaan saat ini, di mana angka produksi mengalami penurunan yang sangat signifikan.

“Dulu itu sudah menjadi kebiasaan, setiap satu hektar lahan bisa menghasilkan panen hingga lima ton gabah. Namun sekarang, kondisinya jauh berkurang. Kita sudah sulit sekali mendapatkan hasil dua hingga tiga ton per hektar saja, apalagi lebih dari itu,” keluh Maman, menggambarkan beratnya beban yang kini dipikul para petani di desanya.

Melihat kondisi yang semakin sulit ini, harapan besar kini tergantung pada perbaikan lingkungan. Maman, yang juga mewakili suara para petani lainnya, menyampaikan permohonan agar kondisi alam di wilayahnya dapat dikembalikan seperti sedia kala.

“Harapan kami para petani, dan saya rasa ini juga harapan seluruh warga, semoga kondisi lingkungan dan kualitas air di sini bisa dinormalkan kembali. Kami rindu suasana dan kondisi seperti tahun-tahun sebelum limbah-limbah tersebut masuk ke wilayah kami,” ucapnya penuh harap, berdoa agar kesejahteraan para petani Desa Cibenda dapat kembali terjamin seperti dahulu kala.

Tinggalkan komentar