ONENEWSOKE.COM
SUKABUMI – Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, khususnya Kecamatan Ciemas sejak Minggu, 24 Mei 2026, memicu serangkaian bencana hidrometeorologi. Berbagai titik akses jalan kabupaten terendam air, tanah longsor berukuran besar terjadi di jalur utama, serta sejumlah pemukiman warga di beberapa desa dilaporkan mulai tergenang, sebagaimana informasi yang diterima awak media onenewsoke.com sejak Minggu malam hingga Senin pagi, 25 Mei 2026.

Situasi semakin parah saat air laut sedang dalam kondisi pasang dan berbarengan dengan turunnya hujan yang makin deras pada sore hari Minggu kemarin. Kondisi itu membuat air laut meluap hingga membanjiri ruas jalan kawasan Geopark Ciletuh Palangpang, termasuk warung-warung dan bangunan usaha yang berdiri di pinggir Pantai Palangpang. Kejadian ini menjadi hal yang mengherankan warga setempat, karena banjir akibat luapan air laut dengan jangkauan sejauh ini jarang terjadi dalam catatan sejarah cuaca di wilayah tersebut.
Salah satu titik terdampak paling parah adalah jalur tanjakan turunan Cipeucang, yang menjadi batas antara Desa Tamanjaya dan Desa Mekarsakti. Berdasarkan rekaman video amatir warga dan pantauan langsung di tempat kejadian perkara (TKP), longsoran tanah dan bebatuan berukuran besar menimpa seluruh badan jalan utama tersebut pada Minggu malam hingga Senin dini hari.
Akibatnya, jalur penghubung dari arah Kiaradua dan Tamanjaya menuju kawasan wisata Geopark Ciletuh maupun sebaliknya, saat ini sama sekali belum bisa dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Tumpukan material longsoran yang tebal membuat lalu lintas terputus total dan warga harus mencari jalan alternatif yang lebih jauh dan sulit dijangkau.

Tak hanya jalan raya, infrastruktur penghubung antar warga pun turut rusak. Sebuah jembatan penghubung yang menghubungkan Kampung Ciseureh RT 003/007 dan Kampung Ciraden RT 003/008 di Desa Tamanjaya, dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat tergerus arus air sungai yang meluap deras. Informasi ini disampaikan langsung oleh warga setempat, Maman Nurjaman, pada Senin pagi saat melaporkan kondisinya ke awak media.
Genangan air juga merambah ke area pemukiman warga. Pada sore hari Minggu lalu, air bah sudah merendam sebagian halaman rumah warga di Kampung Cilele, Desa Ciwaru. Laporan serupa terus masuk dari desa-desa lain seperti Desa Mandrajaya dan Desa Mekarsakti, di mana sejak malam hari warga mulai merasakan dampak kenaikan permukaan air yang cukup tinggi. Beberapa titik yang memang dikenal rawan banjir saat musim penghujan pun kembali tergenang, antara lain di Kampung Babakanjati dan kawasan Desa Mandrajaya yang menjadi jalur penghubung antarwilayah.
Hingga pantauan pada Senin siang, curah hujan sudah mulai mereda. Namun jejak kerusakan masih terlihat jelas di sejumlah titik. Warga pun bertanya-tanya akan fenomena alam yang terjadi, mengapa hujan yang berlangsung relatif singkat, hanya sekitar setengah hari dan semalam saja, mampu memicu bencana yang meluas dan merusak di berbagai titik sekaligus.
Kondisi ini memicu kekhawatiran warga akan dampak lebih lanjut jika cuaca kembali buruk. Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi segera turun tangan, melakukan penanganan darurat, serta menyusun langkah antisipasi jangka panjang agar risiko bencana serupa dapat diminimalisir di masa mendatang, mengingat kerentanan wilayah Ciemas terhadap ancaman banjir dan longsor.








