One

Warga Kepung Rumah Guru Ngaji, Dugaan Pencabulan Anak Gegerkan Simpenan Sukabumi

Warga Kepung Rumah Guru Ngaji

ONENEWSOKE.COM

SUKABUMI — Suasana mencekam terjadi di Desa Cihaur, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jumat (31/7/2026). Puluhan warga serentak mendatangi dan mengepung rumah seorang guru ngaji yang diduga melakukan pencabulan terhadap anak-anak di bawah umur. Peristiwa itu terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial, memicu gelombang kemarahan dan kekhawatiran luas di tengah masyarakat.

Dalam rekaman video berdurasi sekitar satu menit itu, terlihat halaman rumah panggung penuh sesak oleh warga. Seorang pria berpakaian kemeja putih tampak diamankan di tengah kerumunan, sementara suasana sempat memanas. Berkat kesigapan para tokoh masyarakat dan perangkat desa, ketegangan akhirnya dapat diredakan dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Informasi yang beredar menyebutkan, terduga pelaku diduga telah melakukan tindak asusila terhadap sejumlah murid laki-laki yang sedang di didiknya. Kabar tersebut menyebar cepat dan langsung membakar amarah warga, sehingga mereka berbondong-bondong mendatangi kediaman pelaku.

Menanggapi gejolak tersebut, Kepala Desa Cihaur, Asep, membenarkan adanya keributan di wilayahnya, namun menegaskan pihaknya belum pernah menerima laporan resmi terkait dugaan pencabulan itu.

“Selaku pemerintah desa, kami memang belum menerima laporan resmi baik dari masyarakat, tokoh maupun pihak korban,” ujar Asep saat dikonfirmasi, Sabtu (1/8/2026).

Pemerintah desa sebelumnya telah menyarankan keluarga korban untuk melaporkan dugaan tindak pidana tersebut agar ditindaklanjuti secara hukum. Namun, keluarga korban diketahui saat itu memilih menyelesaikan persoalan melalui jalan kekeluargaan.

Seiring memanasnya situasi, pemerintah desa, tokoh masyarakat dan keluarga korban kemudian menggelar musyawarah. Dari pertemuan itu, diambil keputusan bersama agar terduga pelaku segera meninggalkan lingkungan Desa Cihaur demi menjaga keamanan dan ketertiban warga.

“Keputusan bersama saat itu adalah meminta yang bersangkutan keluar dari lingkungan desa,” tegas Asep.

Sementara itu, Satuan Reserse Kriminal Polres Sukabumi segera bergerak menindaklanjuti informasi yang viral. Personel telah diterjunkan ke lokasi untuk mengumpulkan keterangan dan menelusuri keberadaan pihak yang diduga menjadi korban.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi, Iptu Dudi Suharyana, menyatakan pihaknya masih melakukan pendalaman penyelidikan. Hingga saat ini belum ada laporan resmi yang diterima kepolisian, sementara identitas dan keberadaan para korban yang disebut-sebut masih dalam proses penelusuran.

“Kami sudah mendapatkan informasi tersebut dan anggota sudah turun ke lapangan untuk mengecek kebenarannya. Kami masih terus melakukan pendalaman,” ujar Dudi.

Polisi mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan menyerahkan penanganan kasus kepada pihak berwenang guna mendapatkan kebenaran yang nyata.

Tinggalkan komentar