ONENEWSOKE.COM
SUKABUMI – Sejumlah warga di Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan mengalami kerugian materiil yang cukup besar. Diperkirakan total uang yang hilang mencapai kurang lebih seratus juta rupiah sejak dari tahun 2024 dan terjadi lagi saat ini. Kamis (11/06/2026)
Kejadian ini diduga kuat terjadi secara gaib, bahkan muncul dugaan adanya persekutuan antara manusia dengan makhluk halus. Peristiwa ini kembali mencuat lagi saat ini.

Informasi ini disampaikan oleh seorang tokoh masyarakat setempat saat dikonfirmasi oleh awak media onenewsoke.com pada Kamis pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Ia mengungkapkan rasa resah mendalam karena peristiwa serupa sebenarnya sudah terjadi sejak lama dan membuat warga hidup dalam ketakutan.
“Sempat kita berkomunikasi dengan para tokoh agama dan kyai, dan alhamdulillah sempat berhasil menghentikan kejadian ini menjelang akhir tahun 2023. Namun sayangnya, sekarang hal itu terulang kembali,” ujarnya.
Menurut keterangan yang diperoleh, peristiwa hilangnya uang warga mulai ramai dibicarakan sejak tahun 2024, kemudian muncul lagi menjelang akhir tahun 2025.
Tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya itu juga menceritakan bahwa pada tahun 2024 silam, di wilayah Babakan Turi, makhluk halus tersebut sempat terlihat oleh sejumlah warga. Beberapa orang mengaku melihat wujudnya, salah satunya, Endas, yang melihat saat itu dan yang lainnya.
Masyarakat setempat menduga bahwa makhluk halus inilah yang menjadi pelaku di balik hilangnya uang mereka. Bahkan beredar informasi bahwa makhluk halus tersebut bersekutu dengan manusia yang sedang berusaha meningkatkan kekuatan gaibnya. “Kemungkinan besar saat ini ilmunya sudah mencapai tingkat maksimal,” tambahnya.
Salah seorang korban, Mohsidik, menceritakan pengalamannya sendiri. Ia menyebutkan bahwa uangnya sering hilang secara tiba-tiba, baik yang disimpan di rumah maupun di dalam dompet. Saat momen Idul Fitri lalu, ia pernah kehilangan sekitar satu juta hingga satu juta lima ratus ribu rupiah. Jika dihitung secara keseluruhan dari modal usaha dan penghasilannya, total kerugian yang ia alami mencapai hampir dua belas juta rupiah.
Mohsidik juga menjelaskan bahwa cara uang itu hilang terasa aneh dan tidak menentu. “Ada yang hilang sepuluh juta, ada juga yang hanya satu juta. Kadang dari satu ikat uang yang berjumlah satu juta, yang hilang hanya seratus ribu, ada juga yang dua ratus ribu. Jumlahnya tidak pernah sama setiap kali,” jelasnya. Ia mengaku merasa bingung dan sangat gelisah karena kejadian ini terus berulang tanpa ada kejelasan yang pasti.
Hingga kini, warga masih berharap agar segera ditemukan solusi terbaik, sehingga rasa takut dan kerugian yang terus menimpa mereka dapat segera berakhir. Bahkan di lingkungan pemukiman, terlihat dipasang stiker peringatan bertuliskan: “HATI-HATI DS. GIRIMUKTI KAWASAN RAWAN TUYUL !!!”
Merespons situasi ini, Kepala Desa Girimukti, Akung, turut memberikan tanggapan. “Ya, tanggapan saya sebagai pemerintah desa memang benar seperti yang disampaikan tadi, bahwa banyak warga yang melaporkan sering kehilangan uang. Namun, peristiwa kehilangan itu bisa disebabkan oleh banyak faktor dan cara,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan kesulitan yang dihadapi. “Yang menjadi masalah adalah sulitnya membuktikan siapa pelakunya dan bagaimana caranya uang itu bisa hilang. Namun memang benar hal ini sangat meresahkan, karena bukan hanya satu atau dua orang, melainkan sudah puluhan warga yang menjadi korban. Ada yang dari uang sepuluh juta hilang satu juta, ada juga yang jumlahnya lebih kecil. Banyak kejadian seperti itu,” tambah Akung.
Terkait langkah yang akan diambil pemerintah desa, Akung menyatakan bahwa pihaknya hanya dapat memberikan imbauan kepada seluruh warga. “Saya selaku pemerintah desa hanya dapat menghimbau dua hal: pertama, agar masyarakat senantiasa waspada dan berhati-hati. Kedua, jika benar ada warga Desa Girimukti yang memiliki ilmu atau hal-hal yang bersifat gaib, saya memohon agar dihentikan saja. Jangan sampai hal tersebut justru merugikan orang lain,” harapnya.
Mengenai beredarnya stiker peringatan di tempat-tempat umum seperti warung-warung, Akung menilai hal itu tidak menjadi masalah. “Saya tidak tahu siapa yang membuatnya, namun menurut saya hal itu sah-sah saja, karena tujuannya hanya sebatas mengingatkan sesama warga,” tandasnya.








