ONENEWSOKE.COM
SUKABUMI, – Gelombang pembubaran pengurus kembali menghantam Partai Berkarya. Setelah Sumatera Selatan lebih dulu hengkang, kini giliran pengurus DPW dan 17 DPD Partai Berkarya se-Jawa Barat kompak menutup buku dan menyatakan mundur dari kepengurusan Partai Berkarya versi Muchdi PR. Senin (09/02/2026).
Mereka memilih berlabuh ke Partai Indonesia Raya (PARINDRA) yang dimotori Irman Jaya Thaher. Langkah ini mereka sebut bukan sekadar pindah alamat politik, tetapi “pindah dari rumah yang sudah lama tak direnovasi, walau atapnya bocor dan dindingnya retak.”
Prabu Rusmana, Ketua DPD Kabupaten Sukabumi, tampil paling keras menguarakan kekecewaan. Menurutnya, akar persoalan bukan pada dinamika internal belaka, tetapi pada pucuk pimpinan yang dianggap mengabaikan keputusan Munas, forum tertinggi yang seharusnya menjadi kitab suci organisasi.
“Kalau keputusan Munas saja tidak dijalankan, lalu apa yang masih bisa kami perjuangkan? Masa ketua umum lebih kuat dari konstitusi partai?” sindir Prabu, menohok namun tetap berbalut sopan santun Sunda.
Nada serupa datang dari Ketua DPW Jawa Barat, Mayjen TNI (Purn) Suparlan Purwo Utomo. Dengan gaya khas prajurit, ia menegaskan bahwa sebuah komando hanya bisa berjalan bila prinsip dasar organisasi dihormati.
“Di tentara, pelanggaran terhadap aturan itu jelas konsekuensinya. Di partai, kalau aturan sendiri tidak dihargai, bagaimana mau berjuang untuk masyarakat?” ucap Suparlan, menyiratkan bahwa kesabaran mereka sudah mencapai titik jenuh.
Menurut Suparlan, apa yang terjadi di Jawa Barat hanyalah puncak gunung es dari persoalan struktural yang lebih besar. Ia menilai Partai Berkarya saat ini kehilangan arah, dituntun tanpa kompas, namun tetap memaksa berjalan.
“Kalau kapal sudah kehilangan nakhoda yang mendengar suara awak, ya jangan salahkan kalau awaknya memilih pindah kapal,” tuturnya dengan nada satir yang menampar halus.
Keputusan mundur ini juga diklaim sebagai bentuk penyelamatan diri organisasi agar para kader tidak terus terseret konflik berkepanjangan. Para ketua DPD menegaskan bahwa loyalitas bukan berarti buta, apalagi jika aturan internal justru dipatahkan oleh mereka yang seharusnya menjaganya.
“Setia tetap setia, tapi kami tidak mau dibutakan,” ujar salah satu ketua DPD yang hadir, menyiratkan bahwa keputusan ini bulat tanpa ragu.
Dengan pindahnya 17 DPD dan DPW Jawa Barat ke Partai Indonesia Raya (PARINDRA), gelombang eksodus ini menjadi sinyal kuat bahwa arah politik di tubuh Berkarya kian rapuh. PARINDRA disebut memberikan ruang demokrasi yang lebih sehat dan mekanisme yang lebih tertib, meski para kader mengakui bahwa setiap partai tentu punya tantangannya sendiri.
“Kami pindah bukan karena menghindar, tetapi karena ingin bekerja dengan aturan yang jelas,” kata Suparlan.
Kini publik menunggu langkah lanjutan Muchdi PR. Apakah akan ada perbaikan atau justru pembiaran? Yang jelas, bagi para pengurus yang keluar, keputusan sudah final.
“Kami bukan meninggalkan perjuangan; kami hanya meninggalkan kebiasaan melanggar keputusan Munas,” tutup Suparlan, sebuah kalimat yang mungkin akan menjadi kutipan paling menohok dari drama politik internal Partai Berkarya.
Mantan Wakil ketua DPW BERKARYA Jabar Wahyu Sudjatmiko telah memberikan statement tegas tentang kemungkinan Islah. Menolak kepada Mantan Sekjen BERKARYA Pusat Prof. Iman Jaya Thaher. Bahwa islah akan sulit mendapatkan kebaikan di kemudian hari.
Cermin yang retak tidak akan menghasilkan bayangan yang Jernih. Demikian dinyatakan oleh wakil ketua DPW Jabar. Membangun Partai baru merupakan solusi yang tepat. Yang akan di isi oleh orang-orang yang berintegritas, punya komitmen terhadap kemajuan Bangsa dan Negara.








